Toleransi di Sekitar Kita ( Tugas Terstruktur 12 )

 

Toleransi di Sekitar Kita

Pendahuluan

Saya melakukan pengamatan mengenai praktik toleransi di lingkungan tempat tinggal saya, sebuah kawasan permukiman padat di wilayah perkotaan yang dihuni oleh warga dengan latar belakang agama, budaya, dan pekerjaan yang beragam. Lingkungan ini tidak bisa disebut ideal atau harmonis sepenuhnya, karena dinamika sosial di dalamnya kerap diwarnai perbedaan kepentingan dan cara pandang. Justru dari situ saya menemukan bahwa toleransi bukanlah kondisi yang sudah selesai, melainkan proses yang terus diuji dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, toleransi bukan sekadar sikap “tidak mempermasalahkan perbedaan”, tetapi kemampuan untuk tetap menghargai orang lain bahkan ketika kita tidak sepakat atau merasa tidak nyaman. Toleransi menuntut kedewasaan sosial: kesadaran bahwa hidup bersama orang lain berarti berbagi ruang, aturan, dan tanggung jawab, tanpa harus meniadakan identitas pribadi maupun kelompok.

Deskripsi Realita

Dalam pengamatan saya, praktik toleransi di lingkungan ini lebih sering muncul dalam bentuk tindakan-tindakan kecil, bukan peristiwa besar yang bersifat seremonial. Misalnya, ketika waktu ibadah berlangsung, warga cenderung menyesuaikan aktivitasnya agar tidak menimbulkan gangguan. Saya pernah mengamati bagaimana volume suara acara keluarga diturunkan ketika azan berkumandang, meskipun acara tersebut tidak berkaitan dengan kegiatan keagamaan.

Selain itu, toleransi juga terlihat dalam pengelolaan kegiatan warga. Pada saat kerja bakti atau rapat lingkungan, kehadiran warga dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa ruang publik dimaknai sebagai milik bersama. Walaupun tidak semua warga aktif berbicara, mereka tetap hadir dan terlibat secara fisik. Saya melihat bahwa kebersamaan ini tidak selalu disertai keakraban mendalam, tetapi cukup untuk menjaga hubungan yang saling menghormati.

Namun, realita di lapangan juga menunjukkan sisi lain dari toleransi. Dalam beberapa kesempatan, perbedaan pandangan mengenai penggunaan fasilitas umum sempat memicu ketegangan kecil. Misalnya, perdebatan mengenai waktu penggunaan balai warga untuk kegiatan tertentu. Perbedaan ini tidak berkembang menjadi konflik terbuka, tetapi memperlihatkan bahwa toleransi sering kali berada di batas antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

Refleksi dan Analisis

Menurut refleksi saya, toleransi di lingkungan ini bertahan bukan karena kesamaan nilai yang kuat, melainkan karena adanya kebutuhan praktis untuk hidup berdampingan. Warga menyadari bahwa konflik berkepanjangan hanya akan merugikan semua pihak. Kesadaran pragmatis inilah yang menjadi salah satu faktor utama pendukung toleransi.

Faktor lain yang saya amati adalah peran norma sosial tidak tertulis. Meskipun tidak ada aturan resmi yang secara eksplisit mengatur sikap toleransi, warga memahami batas-batas perilaku yang dianggap pantas. Norma ini terbentuk dari pengalaman bersama dan interaksi berulang, sehingga menciptakan semacam kesepakatan sosial informal.

Jika dikaitkan dengan nilai kebangsaan, praktik toleransi ini mencerminkan prinsip hidup bersama dalam keberagaman. Toleransi tidak selalu diwujudkan dalam bentuk solidaritas emosional, tetapi dalam kesediaan untuk menahan diri dan menghormati ruang orang lain. Dalam konteks nilai kemanusiaan, sikap ini menunjukkan pengakuan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama atas rasa aman dan kenyamanan.

Namun, saya juga menyadari bahwa toleransi yang bersifat pasif memiliki keterbatasan. Selama toleransi hanya didorong oleh kebutuhan untuk menghindari konflik, potensi kesalahpahaman tetap ada. Tanpa dialog yang lebih terbuka, prasangka dapat bertahan secara laten dan muncul kembali dalam situasi tertentu.

Kesimpulan

Dari proses pengamatan dan refleksi ini, saya belajar bahwa toleransi tidak selalu tampak dalam bentuk keharmonisan yang hangat, melainkan sering hadir sebagai upaya sadar untuk menahan ego dan kepentingan pribadi. Toleransi adalah praktik sehari-hari yang menuntut kesabaran, kompromi, dan kesediaan untuk memahami batasan orang lain.

Harapan saya ke depan, toleransi di lingkungan tempat tinggal saya dapat berkembang dari sekadar sikap saling menahan diri menjadi hubungan yang lebih dialogis dan inklusif. Dengan membuka ruang komunikasi yang lebih jujur dan setara, toleransi tidak hanya berfungsi sebagai penyangga konflik, tetapi juga sebagai fondasi bagi kehidupan sosial yang lebih adil dan manusiawi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nilai Kebangsaan dalam Aktivitas Akademik (Tugas MAndiri 1 )

Sistem Pemerintahan menurut UUD 1945 dan Kajian Akademik (Tugas Mandiri 2)( Tugas Mandiri 2)

Mengapa Keadilan HAM Sering Kali Dipolitisasi (Tugas Terstruktur 6)