Demokrasi dalam Cengkeraman Oligarki (Akal Sehat #36) (TUGAS MANDIRI 5)
A. Identitas dan Informasi Video
Judul
Webinar: Demokrasi dalam Cengkeraman
Oligarki (Akal Sehat #36)
Narasumber: Rocky Gerung – Filsuf
dan pengamat politik Indonesia
Penyelenggara: Rocky Gerung Official (YouTube)
Tanggal Publikasi: 6 April 2023
Durasi: 29 menit 41 detik
Tautan Akses: https://youtu.be/pX_DhZAlsgo?si=EakKbEvAoYZvh3zv
B. Ringkasan Argumentasi Utama
Dalam diskusi ini, Rocky Gerung menyoroti
fenomena demokrasi Indonesia yang, menurutnya, telah terjebak dalam dominasi
oligarki. Ia memulai dengan mengoreksi kesalahpahaman publik terhadap istilah oligarki. Secara historis, kata ini berasal
dari pemikiran Yunani klasik, yang berarti pemerintahan oleh sedikit orang yang
dianggap bijak (the few). Namun dalam
konteks modern Indonesia, oligarki berubah menjadi simbol kekuasaan yang
dikendalikan oleh segelintir elite tanpa kapasitas intelektual dan moral yang
memadai.
Rocky juga menyoroti bagaimana demokrasi
pasca-Reformasi justru “dirawat oleh oligarki.” Menurutnya, oligarki bukan
sekadar warisan Orde Baru, tetapi juga “anak kandung Reformasi” karena
Reformasi gagal melakukan revolusi moral dan kelembagaan. Ketika rezim baru
lahir tanpa transformasi nilai, partai-partai politik malah menjadi wadah bagi
kepentingan sempit dan perebutan posisi kekuasaan.
Lebih lanjut, Rocky mengkritik rendahnya etika
publik di kalangan politisi. Ia menyindir simbolisme kosong melalui kisah “jas
Hugo Boss” yang dipakai anggota DPR tanpa memahami makna sejarahnya—mewah
secara penampilan tetapi miskin pengetahuan. Ia juga mengutip filsuf Rousseau,
yang menyebut demokrasi sebagai “buah yang baik” namun hanya dapat dicerna oleh
“lambung yang sehat.” Dalam analogi ini, “lambung politik” Indonesia sakit
karena partai-partai kehilangan kurikulum etika publik.
Akhirnya, Rocky menjelaskan alasannya memilih golput. Menurutnya, rezim yang berkuasa
menunjukkan tanda-tanda pelanggaran HAM dan buta terhadap nilai-nilai
lingkungan hidup. Janji pembangunan besar-besaran seperti proyek bendungan dan
cetak sawah dianggapnya sebagai bukti bahwa negara menomorduakan nilai-nilai
kemanusiaan dan ekologi. Bagi Rocky, demokrasi seharusnya menjadi ruang pendidikan
moral dan rasionalitas publik, bukan sekadar kontestasi elektoral.
C. Analisis Kritis
1. Kekuatan Argumentasi
Rocky Gerung menampilkan gaya argumentatif
yang tajam dan reflektif, menggabungkan pendekatan filsafat politik dengan
kritik sosial. Ia berhasil mengaitkan pemikiran Aristoteles dan Rousseau dengan
konteks politik Indonesia modern. Analisisnya menunjukkan bahwa demokrasi tidak
cukup hanya dengan prosedur elektoral, melainkan harus berlandaskan etika
publik dan rasionalitas moral.
Secara logis, pandangan Rocky sejalan dengan
teori Jeffrey A. Winters (2020)
dalam Oligarchy and Democracy in Indonesia,
yang menegaskan bahwa kekuatan oligarki tidak hilang setelah Reformasi, tetapi
beradaptasi dalam sistem demokrasi elektoral. Rocky menegaskan hal serupa
ketika mengatakan bahwa “demokrasi kita justru minta dirawat oleh oligarki,”
menunjukkan bagaimana elite ekonomi-politik memelihara sistem yang seolah
demokratis namun tetap terkendali.
Selain itu, kritiknya terhadap partai politik
yang kehilangan fungsi pendidikan politik publik juga relevan dengan gagasan Robert Dahl (2021) tentang polyarchy, yang menekankan pentingnya
partisipasi dan kompetisi politik yang rasional. Tanpa etika publik, partai
kehilangan legitimasi moral untuk menjadi pilar demokrasi.
2. Kelemahan Argumentasi
Meski kuat secara reflektif, argumen Rocky
memiliki kelemahan dalam aspek empiris. Kritik terhadap pejabat, partai, dan
sistem politik seringkali bersifat generalisasi tanpa data atau rujukan konkret.
Hal ini membuat analisisnya lebih bersifat normatif daripada analitik.
Selain itu, sikap golput yang ia pilih bisa diperdebatkan secara teoritis.
Dalam pandangan Larry Diamond (2020)
tentang democratic consolidation,
partisipasi politik aktif merupakan elemen kunci konsolidasi demokrasi. Ketika
intelektual publik seperti Rocky menarik diri dari proses elektoral, kekosongan
tersebut dapat diisi oleh kekuatan oligarkis yang ia kritik sendiri. Dengan
demikian, golput bisa menjadi bentuk
protes moral, tetapi juga berisiko memperlemah mekanisme koreksi dalam
demokrasi.
3. Perspektif Teoritis
Pandangan Rocky dapat dipahami melalui tiga
kerangka teoritis utama:
1.
Teori Oligarki
(Jeffrey Winters, 2020):
Winters menjelaskan bahwa oligarki adalah sistem kekuasaan di mana kekayaan
menjadi sumber dominasi politik. Dalam demokrasi prosedural seperti Indonesia,
elite ekonomi mampu mempertahankan pengaruhnya melalui pembiayaan politik dan
kontrol media. Rocky menggambarkan fenomena ini dengan metafora bahwa demokrasi
“dirawat oleh oligarki.”
2.
Teori Demokrasi
Poliarcis (Robert Dahl, 2021):
Menurut Dahl, demokrasi memerlukan dua syarat utama: public contestation dan participation.
Namun, oligarki di Indonesia membatasi kedua aspek tersebut karena hanya
segelintir elite yang memiliki akses terhadap sumber daya politik. Kritik Rocky
terhadap partai yang kehilangan fungsi pendidikan publik menunjukkan kegagalan
dalam memenuhi syarat partisipasi politik yang inklusif.
3.
Teori Konsolidasi
Demokrasi (Larry Diamond, 2020):
Diamond berargumen bahwa demokrasi hanya dapat terkonsolidasi jika didukung
oleh lembaga politik yang berintegritas dan budaya politik yang demokratis.
Ketika partai politik kehilangan etika publik dan hanya fokus pada distribusi
jabatan, seperti yang dijelaskan Rocky, maka proses konsolidasi terhambat dan
menghasilkan demokrasi yang dangkal (shallow
democracy).
D. Refleksi dan Sintesis
Pandangan Rocky Gerung menyajikan kritik moral
yang tajam terhadap oligarki politik di Indonesia. Ia menekankan bahwa penyakit
utama demokrasi bukan pada sistemnya, tetapi pada moralitas aktornya. Dalam hal
ini, “lambung yang sakit” menjadi metafora yang kuat untuk menggambarkan
degradasi etika dan intelektualitas politik nasional.
Namun demikian, solusi yang ia tawarkan
melalui golput bersifat pasif dan tidak
menawarkan mekanisme perubahan yang konkret. Berdasarkan teori Dahl (2021),
demokrasi hanya dapat tumbuh melalui partisipasi aktif warga negara. Maka,
langkah lebih produktif adalah memperkuat literasi politik, pendidikan
kewarganegaraan, dan mekanisme akuntabilitas partai.
Esai ini menilai bahwa pandangan Rocky relevan
sebagai peringatan etis bagi demokrasi Indonesia. Ia menyoroti pentingnya
kualitas pemimpin, pendidikan politik, dan integritas publik. Akan tetapi,
demokrasi tidak cukup diselamatkan oleh kritik moral; ia juga memerlukan
reformasi kelembagaan yang sistematis agar tidak terus “dirawat oleh oligarki.”
Dengan demikian, sintesis dari pemikiran Rocky
dan teori demokrasi kontemporer menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia berada di
antara dua kutub: idealisme moral dan realitas oligarkis. Tantangannya adalah
menjembatani keduanya melalui reformasi politik, pendidikan publik, dan
revitalisasi etika dalam ruang demokrasi.
E. Daftar Pustaka
Aspinall, E. (2023). Indonesia's Democratic Trajectory: An Analytical Overview. Journal of Democracy, 34(2), 45–62.
Dahl, R. A. (2021). On Democracy (2nd
ed.). Yale University Press.
Diamond, L. (2020). Ill Winds: Saving
Democracy from Russian Rage, Chinese Ambition, and American Complacency.
Penguin Books.
Warburton, E. (2023). Digital Democracy and
Political Participation in Indonesia. Routledge.
Winters, J. A. (2020). Oligarchy and
Democracy in Indonesia. Cambridge University Press.
Komentar
Posting Komentar